Menggunakan Repositori archive.debian.org di Debian 10
Pendahuluan
Repositori adalah “gudang” tempat sistem operasi mengambil paket, pembaruan keamanan, dan dependensi aplikasi. Setiap kali kita menjalankan apt update atau apt install, sistem sebenarnya sedang berkomunikasi dengan repositori untuk memastikan paket yang diunduh valid dan sesuai versi. Masalah mulai muncul ketika sebuah rilis Debian sudah tidak lagi didukung. Di titik ini, repositori resmi perlahan menghilang dari mirror aktif, dan berbagai error pun bermunculan.
Pada panduan ini, kita akan fokus menggunakan repositori archive.debian.org di Debian 10. Alasannya sederhana, Debian 10 (Buster) sudah masuk status End of Life, sehingga repositori standar tidak lagi bisa diandalkan. Dengan mengarahkan sistem ke archive.debian.org, kita masih bisa melakukan update paket atau memasang software tertentu, meskipun tanpa jaminan pembaruan keamanan terbaru. Panduan ini praktis, langsung ke inti, dan cocok untuk sistem lama yang masih harus tetap berjalan.
Persyaratan
1. Sistem Operasi Debian 10 (Buster)
Pastikan sistem yang digunakan adalah Debian 10. Panduan ini tidak berlaku untuk versi Debian lain karena perbedaan struktur repositori dan nama rilis. Versi sistem dapat dicek melalui file /etc/os-release atau dengan perintah lsb_release -a.
2. Akses Administratif (Root atau Sudo)
Anda harus memiliki akses sebagai user root atau user dengan hak sudo. Hak administratif ini diperlukan untuk mengubah file /etc/apt/sources.list dan menjalankan perintah-perintah manajemen paket.
3. Koneksi Internet Aktif dan Stabil
Meskipun menggunakan repositori arsip, sistem tetap membutuhkan koneksi internet untuk mengunduh metadata paket saat menjalankan apt update. Koneksi yang tidak stabil dapat menyebabkan proses gagal atau error yang menyesatkan.
4. Teks Editor Berbasis Terminal
Siapkan teks editor seperti nano, vi, atau vim. Editor ini digunakan untuk membuat dan mengonfigurasi file sources.list, terutama pada server atau sistem tanpa antarmuka grafis.
5. Pemahaman Risiko End of Life
Pengguna perlu memahami bahwa Debian 10 sudah berstatus End of Life. Repositori archive.debian.org tidak menyediakan pembaruan keamanan atau perbaikan bug terbaru, sehingga konfigurasi ini sebaiknya hanya digunakan sebagai solusi sementara, bukan jangka panjang.
Tahapan 1 – Masuk ke dalam User Root
Sebelum masuk ke tahap konfigurasi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan kita memiliki hak administratif penuh. Cara paling umum adalah dengan masuk ke user root.
Gunakan perintah berikut untuk masuk ke user root, lalu tekan Enter untuk menjalankannya:
Input:
su - rootSetelah itu, masukkan kata sandi user root yang Anda miliki. Saat mengetikkan kata sandi, karakter tidak akan ditampilkan di layar. Ini normal, jadi cukup ketikkan hingga selesai lalu tekan Enter.
Output:
Password:Jika kata sandi benar, prompt shell yang sebelumnya menggunakan simbol user biasa $ akan berubah menjadi #, menandakan Anda sudah berada di user root.
Jika sistem operasi Debian 10 yang Anda gunakan tidak mengaktifkan user root, silakan lewati tahapan ini. Sebagai gantinya, tambahkan perintah sudo di depan setiap perintah yang memerlukan hak administratif pada tahapan-tahapan berikutnya.
Tahapan 2 – Mengonfigurasi File sources.list
Secara default, Debian 10 sudah menyediakan file /etc/apt/sources.list yang berisi alamat repositori resmi. Namun, agar konfigurasi bawaan tetap aman dan bisa dikembalikan sewaktu-waktu, sebaiknya kita lakukan backup terlebih dahulu.
Penulis memilih menggunakan perintah mv (move) untuk membackup file tersebut, dengan cara mengganti namanya namun tetap berada di lokasi yang sama, penulis akan mengganti nama file awal. sources.list menjadi sources.list.backup.
Input:
mv /etc/apt/sources.list /etc/apt/sources.list.backupSetelah perintah ini dijalankan, file sources.list di dalam direktori /etc/apt/ sudah tidak ada lagi karena namanya berubah menjadi sources.list.backup. Ini menandakan backup berhasil.
Selanjutnya, kita akan membuat file sources.list baru. Pada contoh ini, penulis menggunakan teks editor nano:
Input:
nano /etc/apt/sources.listDi dalam file ini, silakan definisikan alamat repositori Debian yang akan digunakan. Contoh konfigurasi sederhana untuk Debian 10 adalah sebagai berikut:
Input:
deb http://archive.debian.org/debian/ buster main contrib non-free
deb http://archive.debian.org/debian/ buster-updates main contrib non-free
deb http://archive.debian.org/debian-security/ buster/updates main contrib non-freeSetelah selesai menuliskan konfigurasi tersebut, simpan perubahan dan tutup nano. Dengan ini, sistem Debian 10 Anda sudah diarahkan untuk menggunakan repositori archive.debian.org di Debian 10, bukan lagi repositori resmi yang sudah tidak aktif.
Tahapan 3 – Menguji Konfigurasi
Langkah terakhir adalah menguji apakah alamat repositori yang sudah kita konfigurasi dapat diakses dengan benar oleh sistem. Untuk itu, jalankan perintah berikut:
Input:
apt updateOutput:
Hit:1 http://archive.debian.org/debian buster InRelease
Hit:2 http://archive.debian.org/debian buster-updates InRelease
Hit:3 http://archive.debian.org/debian-security buster/updates InRelease
Reading package lists... Done
Building dependency tree
Reading state information... Done
114 packages can be upgraded. Run 'apt list --upgradable' to see them.Perhatikan output yang muncul di layar. Jika proses berjalan tanpa pesan error atau kesalahan terkait repositori, maka konfigurasi yang Anda lakukan sudah valid dan berhasil. Sebaliknya, jika masih muncul error, biasanya disebabkan oleh kesalahan penulisan URL repositori atau koneksi jaringan yang bermasalah.
Dengan selesainya tahapan ini, Debian 10 Anda kembali dapat melakukan update paket menggunakan repositori arsip. Ini bukan solusi jangka panjang, tetapi cukup efektif untuk menjaga sistem lama tetap bisa digunakan sesuai kebutuhan.
Penutup
Menggunakan repositori archive.debian.org di Debian 10 pada dasarnya adalah langkah kompromi. Di satu sisi, kita sadar bahwa Debian 10 sudah berada di fase End of Life sehingga tidak lagi menerima pembaruan keamanan dan dukungan resmi. Namun di sisi lain, kebutuhan di lapangan sering kali memaksa sistem ini tetap berjalan, entah karena ketergantungan aplikasi lama, keterbatasan waktu migrasi, atau alasan operasional lainnya.
Dengan mengarahkan sources.list ke archive.debian.org, setidaknya sistem masih bisa melakukan apt update dan memasang paket yang dibutuhkan tanpa terhambat error repositori. Meski begitu, penting untuk diingat bahwa repositori arsip ini bersifat statis. Tidak ada patch keamanan baru, tidak ada perbaikan bug lanjutan, dan risiko keamanan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna.
Jika Debian 10 masih digunakan di lingkungan produksi, sebaiknya konfigurasi ini hanya dijadikan solusi sementara. Dalam jangka menengah hingga panjang, migrasi ke rilis Debian yang masih aktif dan didukung adalah langkah paling rasional dan aman. Anggap panduan ini sebagai “jembatan darurat” agar sistem tetap hidup, sambil menyiapkan langkah strategis berikutnya menuju platform yang lebih modern dan berkelanjutan.


Posting Komentar