Pembahasan UKK Teknik Komputer dan Jaringan 2025-2026 Paket 1 (Bagian 4)
Pendahuluan
Pada praktik UKK Teknik Komputer dan Jaringan, tidak semua perangkat harus selalu digunakan sesuai label yang tertulis di bodinya. Di bagian keempat ini, sebuah MikroTik RB941-2nD yang identik sebagai router justru akan diposisikan ulang sebagai switch manageable yang bekerja di layer 2. Di sinilah pemahaman konsep dan kemampuan konfigurasi benar-benar diuji, karena peserta dituntut mampu menyesuaikan fungsi perangkat dengan kebutuhan topologi jaringan.
Pembahasan ini akan membawa pembaca melalui rangkaian tahapan konfigurasi yang dimulai dari persiapan perangkat, reset konfigurasi, pengenalan identitas, pembuatan bridge, hingga pemetaan VLAN dan pengujian akhir. Seluruh proses disusun bertahap dan praktis, sehingga pembaca dapat mengikuti alur konfigurasi secara sistematis tanpa harus tenggelam dalam teori yang berlebihan. Bagian ini menjadi fondasi penting untuk memastikan distribusi VLAN berjalan rapi dan siap digunakan pada skenario jaringan yang lebih kompleks.
Tahapan 1 – Persiapan Awal
Pada tahapan awal ini, kita mulai masuk ke tahap konfigurasi dengan tujuan mengubah fungsi perangkat MikroTik RB941-2nD yang kedua. Walaupun secara fisik perangkat ini adalah sebuah router, pada praktik UKK kali ini perannya diubah menjadi switch manageable yang bekerja di layer 2 sebagai distributor VLAN. Perubahan fungsi ini penting karena seluruh lalu lintas VLAN dari router utama akan diteruskan ke perangkat klien melalui perangkat ini.
Untuk melakukan konfigurasi RB941-2nD yang kedua, penulis menggunakan laptop yang sama seperti pada konfigurasi sebelumnya. Oleh karena itu, kabel UTP yang sebelumnya terhubung ke RB941-2nD pertama akan dilepas, lalu dipindahkan ke port Ether4 pada RB941-2nD yang kedua. Sebagai catatan, port Ether2 atau Ether3 juga bisa digunakan.
Setelah kabel jaringan terpasang, hubungkan RB941-2nD yang kedua ke sumber listrik. Tunggu beberapa saat hingga perangkat menyala sempurna dan siap diakses untuk proses konfigurasi selanjutnya.
Tahapan 2 – Melakukan Reset Konfigurasi
Sebelum perangkat RB941-2nD yang kedua diubah fungsinya menjadi switch manageable, langkah wajib yang harus dilakukan adalah reset konfigurasi. Tujuan dari proses ini adalah menghapus seluruh konfigurasi lama yang mungkin masih tersimpan, sehingga proses konfigurasi dapat dilakukan dari kondisi benar-benar bersih dan lebih mudah dikontrol.
Langkah pertama, silakan lakukan remote akses ke perangkat RB941-2nD yang digunakan. Penulis menyarankan untuk melakukan remote akses menggunakan MAC Address perangkat, karena pada kondisi awal belum tentu konfigurasi IP Address sesuai dengan jaringan yang digunakan.
Setelah berhasil masuk ke menu konfigurasi utama MikroTik, pilih menu System >> Reset Configuration. Jendela Reset Configuration akan ditampilkan, dan pada tahap ini pengguna diminta menentukan opsi reset yang akan digunakan.
Dalam panduan ini, penulis memberikan tanda centang pada opsi No Default Configuration dan Do Not Backup. Opsi ini dipilih agar RouterOS tidak membuat file backup otomatis dan tidak memuat konfigurasi bawaan setelah reset dilakukan.
Jika seluruh opsi sudah sesuai, klik menu Reset Configuration. MikroTik RouterOS akan menampilkan jendela konfirmasi. Klik OK untuk melanjutkan proses reset.
Setelah dikonfirmasi, perangkat akan melakukan reset secara otomatis dan koneksi remote dari komputer akan terputus selama proses berlangsung.
Tahapan 3 – Mengubah Identitas Perangkat
Tahapan ini dilakukan untuk memudahkan proses identifikasi perangkat, terutama ketika kita bekerja dengan lebih dari satu MikroTik dalam satu topologi. Dengan identitas yang jelas, risiko salah konfigurasi pada perangkat yang tidak sesuai dapat diminimalkan.
Untuk mengubah identitas perangkat, silakan masuk ke menu System >> Identity. Jendela Identity akan otomatis ditampilkan.
Pada kolom nama, ubah identitas sesuai kebutuhan. Dalam panduan ini, penulis menggunakan identitas “Switch” untuk RB941-2nD yang kedua agar mudah dibedakan dari perangkat router utama.
Setelah perubahan identitas selesai dilakukan, klik OK untuk menyimpan konfigurasi.
Tahapan 4 – Membuat dan Mengkonfigurasi Bridge
Tahapan ini diperlukan agar VLAN yang sudah dikonfigurasi pada Router 1 dapat dilewatkan ke perangkat klien, seperti komputer Guru, Siswa, dan Server. Bridge pada MikroTik RouterOS berfungsi sebagai penghubung antarmuka jaringan di layer 2, sehingga beberapa port fisik dapat bekerja dalam satu domain jaringan yang sama.
Langkah pertama adalah membuat bridge baru. Masuk ke menu Bridge, lalu klik New untuk membuat bridge baru.
Tentukan nama bridge pada parameter Name, misalnya bridge1, kemudian klik OK untuk menyimpan konfigurasi.
Setelah bridge berhasil dibuat, langkah berikutnya adalah menambahkan port-port yang dibutuhkan ke dalam bridge tersebut. Sesuai dengan kebutuhan soal, port yang akan dimasukkan ke dalam bridge adalah Ether1 (menuju gateway di Router 1), Ether2 (VLAN Access untuk VLAN ID 10), Ether3 (VLAN Access untuk VLAN ID 20), dan Ether4 (VLAN Access untuk VLAN ID 30).
Untuk menambahkan port, pilih tab Ports pada jendela Bridge, lalu klik New.
Pilih interface yang ingin dimasukkan ke dalam bridge melalui parameter Interface, misalnya Ether1, kemudian klik OK.
Ulangi langkah yang sama untuk menambahkan Ether2, Ether3, dan Ether4 ke dalam bridge yang telah dibuat.
Menambahkan Ether2 Kedalam Bridge
Menambahkan Ether3 Kedalam Bridge
Menambahkan Ether4 Kedalam Bridge
Tahapan 5 – Memetakkan VLAN
Pada tahapan ini, kita mulai melakukan pemetaan VLAN sesuai dengan kebutuhan dan permintaan soal. Proses ini bertujuan untuk menentukan VLAN mana yang akan dilewatkan melalui port tertentu, baik sebagai trunk maupun access.
Untuk melakukan hal itu silahkan pilih menu Switch, lalu pilih tab VLAN.
Sebagai contoh awal, penulis akan memetakkan VLAN ID 10 yang akan digunakan pada interface Ether2.
Klik New, lalu pada parameter VLAN ID isikan nilai 10. Pada parameter Ports, pilih Ether1 dan Ether2. Konfigurasi ini menandakan bahwa Ether1 berfungsi sebagai trunk VLAN 10, sedangkan Ether2 sebagai VLAN access. Klik OK untuk menyimpan konfigurasi.
Langkah yang sama dilakukan untuk VLAN ID 20 dan VLAN ID 30, dengan menyesuaikan port access sesuai kebutuhan.
Melakukan Pemetaan Terhadap VLAN ID 20
Melakukan Pemetaan Terhadap VLAN ID 30
Setelah pemetaan VLAN selesai, langkah berikutnya adalah mengatur VLAN Mode dan VLAN Header. VLAN Mode berfungsi untuk menentukan bagaimana sebuah port menangani trafik VLAN, sedangkan VLAN Header mengatur perlakuan terhadap tag VLAN, apakah ditambahkan, dipertahankan, atau dihapus.
Untuk melakukan itu masih pada menu Switch, pilih tab Port. Sebagai awalan lakukan editing pada interface Ether1 dengan cara klik dua kali pada interface tersebut.
Karena Ether1 berfungsi sebagai VLAN trunk, atur VLAN Mode menjadi secure dan VLAN Header menjadi add if missing. Klik OK untuk menyimpan.
Selanjutnya, lakukan pengaturan pada Ether2 yang berfungsi sebagai VLAN access. Atur VLAN Mode menjadi secure, VLAN Header menjadi always strip, dan Default VLAN ID menjadi 10. Opsi always strip digunakan untuk menghilangkan VLAN tagging sebelum paket diteruskan ke perangkat klien. Klik OK untuk menyimpan konfigurasi. Mengapa pada Ether2 kita perlu mendefinisikan "Default VLAN ID", karena interface ini akan menjadi VLAN Access.
Ulangi langkah konfigurasi yang sama untuk Ether3 dan Ether4 dengan menyesuaikan Default VLAN ID sesuai VLAN yang dijalankan pada masing-masing port.
Konfigurasi VLAN Mode dan VLAN Header Untuk Interface Ether3
Konfigurasi VLAN Mode dan VLAN Header Untuk Interface Ether4
Tahapan 6 – Pengujian
Pada tahap akhir ini, kita sudah tidak lagi masuk ke fase konfigurasi, karena seluruh pengaturan dasar yang dibutuhkan telah selesai. Fokus utama adalah memastikan bahwa seluruh perangkat dan konfigurasi bekerja sesuai dengan rancangan topologi.
Sebelum pengujian dilakukan, susun seluruh perangkat sesuai dengan topologi yang direncanakan. Penulis mengasumsikan RB941-2nD pertama sebagai router utama sudah terhubung ke modem ISP. Kemudian hubungkan RB941-2nD pertama ke RB941-2nD kedua menggunakan kabel Ethernet, dengan menggunakan port Ether2 pada router utama dan port Ether1 pada perangkat switch distribusi.
Selanjutnya, hubungkan komputer client ke perangkat RB941-2nD yang berfungsi sebagai switch distribusi melalui port Ether2 dan Ether3. Pada tahap ini, port Ether4 masih belum dihubungkan ke komputer server.
Setelah seluruh perangkat terhubung, lakukan pengujian dari sisi komputer client. Pastikan kedua komputer client menggunakan konfigurasi IP Address dinamis agar mendapatkan alamat IP dari DHCP Server yang berjalan di router utama. Jika konfigurasi sudah benar, client yang terhubung ke Ether2 akan memperoleh IP Address pada rentang 192.168.10.2 – 192.168.10.254, karena Ether2 merupakan VLAN access untuk VLAN ID 10. Sementara itu, client yang terhubung ke Ether3 akan memperoleh IP Address pada rentang 192.168.20.2 – 192.168.20.254, karena Ether3 merupakan VLAN access untuk VLAN ID 20.
Pengujian terakhir dilakukan dari sisi RB941-2nD pertama yang berfungsi sebagai router. Masuk ke menu IP >> DHCP Server, lalu pilih tab Leases. Pastikan alamat IP yang diterima oleh kedua komputer client sesuai dengan data yang ditampilkan pada daftar DHCP leases. Jika seluruh hasil pengujian sesuai, maka konfigurasi VLAN dan fungsi switch manageable telah berjalan dengan benar.
Penutup
Sampai pada titik ini, seluruh konfigurasi dasar jaringan dapat dikatakan telah selesai dengan baik. Perangkat RB941-2nD yang berfungsi sebagai router maupun yang dialihfungsikan sebagai switch manageable sudah berjalan sesuai perannya masing-masing. RB941-2nD yang bertugas sebagai distribusi VLAN juga telah berhasil meneruskan trafik dengan benar, dibuktikan dari client Guru dan Siswa yang memperoleh IP Address sesuai segmentasi VLAN dan mampu mengakses Internet tanpa kendala. Ini menjadi indikator penting bahwa rancangan topologi dan konfigurasi VLAN yang diterapkan sudah tepat.
Hasil ini bukan hanya menandakan bahwa konfigurasi teknis telah selesai, tetapi juga menunjukkan pemahaman alur jaringan dari sisi router, switch, hingga client. Fondasi jaringan sudah terbentuk dengan rapi dan stabil, sehingga siap digunakan untuk kebutuhan layanan yang lebih lanjut.
Pada bagian berikutnya, pembahasan akan berlanjut ke tahapan instalasi dan konfigurasi server dengan memanfaatkan Oracle VM VirtualBox serta sistem operasi Linux Debian 12. Di sinilah peran server mulai diperkenalkan sebagai pusat layanan jaringan yang akan melengkapi infrastruktur yang sudah dibangun sebelumnya.
Sebelum melangkah ke tahap selanjutnya, penting untuk menyiapkan mental dan fokus. Tahapan konfigurasi server memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi, menuntut ketelitian, kesabaran, dan konsistensi dalam setiap langkah. Jangan terburu-buru, pahami setiap proses yang dilakukan, karena justru di tahap inilah kemampuan teknis dan pola pikir sistem administrator benar-benar diasah. Fondasi jaringan sudah kuat, sekarang saatnya naik satu level lebih tinggi.
.png)




































ether4 vlan id nya 10 apa 30 ya kak, seharusnya???