Merancang Bangun DHCP Server Multiple Network Menggunakan Debian 13
Pendahuluan
DHCP atau Dynamic Host Configuration Protocol adalah sebuah mekanisme yang memungkinkan perangkat jaringan mendapatkan konfigurasi IP Address secara otomatis. Dengan DHCP, administrator jaringan tidak perlu lagi mengatur alamat IP satu per satu pada setiap komputer client. Proses ini berjalan otomatis, cepat, dan jauh lebih minim kesalahan dibandingkan konfigurasi manual.
DHCP Server adalah sistem atau layanan yang bertugas membagikan informasi jaringan tersebut kepada client. Informasi yang diberikan tidak hanya berupa IP Address, tetapi juga parameter penting lain seperti subnet mask, gateway, hingga DNS server. Selama client masih berada dalam jaringan yang sama dan layanan DHCP Server aktif, maka proses ini akan berjalan tanpa campur tangan pengguna.
DHCP Server Multiple Network adalah implementasi DHCP Server yang melayani lebih dari satu segmen jaringan sekaligus. Artinya, satu mesin server dapat membagikan IP Address ke beberapa network yang berbeda, selama server tersebut memiliki interface jaringan yang sesuai. Konsep ini sangat umum digunakan pada jaringan skala menengah hingga besar, terutama untuk efisiensi perangkat dan manajemen.
Fungsi utama DHCP Server adalah menyederhanakan pengelolaan jaringan. Selain membagikan IP Address, DHCP Server juga membantu mencegah konflik IP, mempercepat proses koneksi client ke jaringan, dan memudahkan administrasi ketika terjadi perubahan konfigurasi jaringan.
Pada panduan kali ini, kita akan merancang bangun DHCP Server multiple network pada Debian 10 dengan menggunakan paket isc-dhcp-server. Fokus pembahasan akan diarahkan pada konfigurasi praktis yang umum ditemui di lapangan, tanpa mengubah konsep dasar yang sudah disediakan secara default oleh sistem.
Persyaratan
Sebelum melakukan perancangan dan implementasi DHCP Server Multiple Network menggunakan Debian 10, terdapat beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi agar proses konfigurasi dapat berjalan lancar dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
1. Perangkat Server dengan Sistem Operasi Debian 10
Server yang digunakan harus menjalankan sistem operasi Debian 10 yang telah terpasang dengan baik dan dapat diakses melalui terminal. Sistem harus berada dalam kondisi stabil, tidak mengalami masalah pada layanan dasar, serta sudah terhubung ke jaringan sesuai dengan topologi yang direncanakan.
2. Hak Akses Administratif (Root atau Sudo)
Pengguna harus memiliki akses sebagai user root atau memiliki hak sudo. Hak akses ini diperlukan untuk melakukan instalasi paket, mengubah file konfigurasi sistem, serta melakukan restart layanan DHCP Server.
3. Koneksi ke Repositori Debian
Server harus memiliki koneksi internet atau akses ke mirror repositori Debian yang valid. Koneksi ini dibutuhkan untuk melakukan sinkronisasi paket dan mengunduh paket isc-dhcp-server beserta dependensinya menggunakan manajemen paket apt.
4.Minimal Dua Interface Jaringan Aktif
Untuk skenario DHCP Server multiple network, server wajib memiliki lebih dari satu interface jaringan yang aktif. Setiap interface harus terhubung ke segmen jaringan yang berbeda dan sudah dikonfigurasi dengan IP Address statis agar dapat berfungsi sebagai gateway sekaligus penyedia layanan DHCP.
5. Konfigurasi IP Address Statis pada Interface Server
Setiap interface jaringan yang akan menjalankan layanan DHCP Server harus menggunakan IP Address statis. IP ini akan berfungsi sebagai gateway bagi client, sehingga tidak boleh menggunakan IP dinamis dari DHCP lain.
6. Perencanaan Subnet dan Rentang IP Address
Administrator jaringan harus sudah menentukan subnet mask, network address, dan rentang IP Address yang akan dipinjamkan kepada client. Perencanaan ini penting untuk mencegah konflik IP dan memastikan jumlah address pool sesuai dengan kebutuhan jaringan.
7. Teks Editor Berbasis Terminal
Server harus memiliki teks editor berbasis terminal seperti nano, vi, atau vim. Editor ini digunakan untuk melakukan pengeditan file konfigurasi, terutama dhcpd.conf dan isc-dhcp-server.
8. Perangkat Client untuk Pengujian
Minimal diperlukan dua komputer client atau mesin virtual yang terhubung ke masing-masing network yang dilayani oleh DHCP Server. Client ini digunakan untuk memastikan bahwa layanan DHCP berjalan dengan benar dan mampu membagikan IP Address sesuai subnet yang ditentukan.
9. Pemahaman Dasar Jaringan Komputer
Pengguna diharapkan memiliki pemahaman dasar mengenai konsep jaringan, seperti IP Address, subnet mask, gateway, dan interface jaringan. Pemahaman ini akan sangat membantu dalam proses analisis topologi dan troubleshooting apabila terjadi kendala.
Dengan memenuhi seluruh persyaratan di atas, proses perancangan dan implementasi DHCP Server multiple network pada Debian 10 dapat dilakukan dengan lebih terarah dan minim kesalahan.
Topologi Praktikum
Topologi ini dirancang secara sederhana namun representatif terhadap kondisi jaringan di lapangan, sehingga memudahkan peserta praktikum dalam memahami alur komunikasi jaringan, peran server, serta proses pendistribusian IP Address secara dinamis. Dengan topologi ini, diharapkan proses praktikum dapat berjalan terstruktur, mudah diuji, dan relevan dengan kebutuhan nyata pengelolaan jaringan.
Default Configuration DHCP Server
Setelah Anda melakukan instalasi paket isc-dhcp-server, sistem secara otomatis akan menyediakan beberapa file konfigurasi bawaan. Salah satu file terpenting adalah dhcpd.conf, yang biasanya berada di direktori /etc/dhcp/. File inilah yang menjadi “otak” dari layanan DHCP Server.
Di dalam file dhcpd.conf, terdapat contoh default configuration yang sebenarnya sudah disiapkan oleh Debian, namun dalam kondisi tidak aktif (dikomentari atau diberikan tanda pagar didepan rule tersebut). Contoh rule default tersebut kurang lebih seperti berikut:
subnet 10.5.5.0 netmask 255.255.255.224 {
range 10.5.5.26 10.5.5.30;
option domain-name-servers ns1.internal.example.org;
option domain-name "internal.example.org";
option routers 10.5.5.1;
option broadcast-address 10.5.5.31;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}Mari kita bahas fungsi masing-masing rule di atas secara singkat dan jelas.
- Rule subnet digunakan untuk mendefinisikan segmen jaringan yang akan dilayani oleh DHCP Server, lengkap dengan subnet mask-nya.
- Rule range menentukan rentang IP Address yang akan dipinjamkan kepada client.
- Rule option domain-name-servers berfungsi untuk mendistribusikan alamat DNS Server kepada client.
- Rule option domain-name digunakan untuk memberikan nama domain lokal ke client.
- Rule option routers mendefinisikan default gateway yang akan digunakan client.
- Rule option broadcast-address menentukan alamat broadcast pada jaringan tersebut.
- Rule default-lease-time adalah durasi peminjaman IP Address secara default (dalam detik).
- Rule max-lease-time menentukan durasi maksimum peminjaman IP Address.
Tahapan 1 – Analisis Topologi yang Anda Miliki
Analisis topologi merupakan langkah awal yang sangat penting agar konfigurasi DHCP Server dapat berjalan optimal. Tanpa pemahaman topologi yang jelas, kesalahan konfigurasi sangat mudah terjadi.
Pada rancangan topologi yang digunakan, komputer dengan sistem operasi Debian 10 memiliki tiga interface jaringan. Interface pertama, enp0s3, terhubung ke internet. Interface kedua, enp0s8, dan interface ketiga, enp0s9, terhubung ke jaringan lokal. Dalam panduan ini, layanan DHCP Server akan dijalankan pada interface enp0s8 dan enp0s9.
Interface enp0s8 menggunakan alamat IP 192.168.2.1/24. Artinya, server berada pada jaringan 192.168.2.0 dengan subnet mask 255.255.255.0. Dengan subnet mask /24, terdapat kurang lebih 254 alamat IP yang dapat digunakan, yaitu dari 192.168.2.1 sampai 192.168.2.254. Untuk mempermudah perhitungan seperti ini, Anda dapat memanfaatkan subnet calculator.
Rentang alamat 192.168.2.2 – 192.168.2.254 berpotensi digunakan sebagai address pool DHCP Server. Alamat 192.168.2.1 tidak dipinjamkan karena sudah digunakan oleh server. Apakah seluruh rentang harus digunakan? Jawabannya tidak. Penyesuaian tetap bergantung pada kebutuhan jaringan.
Interface enp0s9 menggunakan alamat IP 192.168.4.1/24. Konsepnya sama, dengan subnet mask 255.255.255.0 dan total sekitar 254 perangkat yang dapat saling terhubung. Rentang alamat 192.168.4.2 – 192.168.4.254 dapat digunakan sebagai address pool DHCP Server, dengan catatan alamat 192.168.4.1 tetap dikhususkan untuk server.
Tahapan 2 – Masuk ke Dalam User Root
Sebelum melakukan konfigurasi, Anda perlu memastikan memiliki hak administratif. Cara paling umum adalah masuk ke user root. Gunakan perintah dibawah ini untuk berpindah ke user root, lalu tekan Enter.
Input:
su - rootMasukkan kata sandi root yang Anda miliki. Selama mengetik, karakter tidak akan ditampilkan di layar. Jika berhasil, prompt shell akan berubah dari simbol $ menjadi #.
Output:
Password:Jika sistem operasi Anda tidak mengaktifkan user root, tahapan ini dapat dilewati. Sebagai gantinya, gunakan perintah sudo di depan setiap perintah yang membutuhkan hak administratif.
Tahapan 2 – Melakukan Sinkronisasi Paket
Sebelum menginstal paket isc-dhcp-server, lakukan sinkronisasi paket terlebih dahulu. Jalankan perintah apt update agar daftar paket pada sistem selalu dalam kondisi terbaru.
Input:
apt updateTahapan 3 – Instalasi Paket isc-dhcp-server
Paket isc-dhcp-server tersedia di repositori resmi Debian. Untuk melakukan instalasi, cukup jalankan perintah dibawah ini;
Input:
apt install isc-dhcp-serverManajemen paket apt akan meminta konfirmasi apakah Anda yakin ingin melanjutkan instalasi beserta dependensinya. Tekan Enter untuk menyetujui dan melanjutkan.
Output:
Installing:
isc-dhcp-server
Installing dependencies:
isc-dhcp-common policycoreutils selinux-utils
Suggested packages:
polkitd isc-dhcp-server-ldap ieee-data
Summary:
Upgrading: 0, Installing: 4, Removing: 0, Not Upgrading: 0
Download size: 1,832 kB
Space needed: 8,002 kB / 17.5 GB available
Continue? [Y/n] Proses unduhan dan instalasi akan berjalan otomatis. Anda tidak perlu melakukan apa pun selain memperhatikan progresnya di layar. Pastikan tidak ada pesan error setelah instalasi selesai.
Tahapan 4 – Mengonfigurasi File dhcpd.conf
File dhcpd.conf adalah file utama yang mengatur perilaku DHCP Server, mulai dari subnet, range IP, hingga parameter jaringan lainnya.
Pada panduan ini, konfigurasi dilakukan menggunakan teks editor nano.
Input:
nano /etc/dhcp/dhcpd.confSetelah file terbuka, arahkan kursor ke bagian paling bawah. Tambahkan rule konfigurasi sesuai kebutuhan jaringan Anda. Karena kita menjalankan DHCP Server multiple network, setiap blok konfigurasi harus ditulis dengan teliti. Kesalahan kecil, seperti kurung kurawal yang tidak seimbang, sangat berpotensi menyebabkan layanan gagal berjalan.
Input:
subnet 192.168.2.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.2.10 192.168.2.20;
option broadcast-address 192.168.2.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}
subnet 192.168.4.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.4.20 192.168.4.50;
option broadcast-address 192.168.4.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}Setelah seluruh rule ditambahkan, simpan perubahan dan keluar dari teks editor.
Tahapan 5 – Mendefinisikan Interface yang Menjalankan DHCP Server
File isc-dhcp-server yang berada di direktori /etc/default/ berfungsi untuk menentukan interface jaringan mana saja yang akan menjalankan layanan DHCP Server.
Konfigurasi dilakukan menggunakan teks editor nano.
Input:
nano /etc/default/isc-dhcp-serverDi dalam file tersebut, cari rule INTERFACESv4. Definisikan interface yang akan menjalankan layanan DHCP Server, misalnya enp0s8 enp0s9. Karena ini adalah konfigurasi multiple network, pisahkan setiap interface dengan spasi.
Jika Anda menggunakan IPv6, lakukan hal serupa pada rule INTERFACESv6. Setelah selesai, simpan konfigurasi dan keluar dari editor.
Tahapan 6 – Restart Service DHCP Server
Setelah seluruh konfigurasi selesai, lakukan restart layanan DHCP Server menggunakan perintah;
Input:
systemctl restart isc-dhcp-serverPastikan tidak ada pesan kesalahan yang muncul. Jika layanan berhasil direstart tanpa error, berarti konfigurasi Anda secara umum sudah benar.
Tahapan 7 – Pengujian
Pengujian pada panduan kali ini akan dilakukan melalui dua sisi, yaitu client dan server.
Pengujian pertama dilakukan pada Client 1 yang terhubung ke interface enp0s8. Client ini seharusnya mendapatkan IP Address pada rentang 192.168.2.10 sampai 192.168.2.20. Jika tidak sesuai, periksa kembali konfigurasi DHCP pada subnet tersebut.
Pengujian kedua dilakukan pada Client 2 yang terhubung ke interface enp0s9. Client ini seharusnya memperoleh IP Address pada rentang 192.168.4.20 sampai 192.168.4.50. Ketidaksesuaian alamat menandakan adanya kesalahan konfigurasi.
Pengujian terakhir dilakukan dari sisi server dengan menjalankan perintah dhcp-lease-list. Perintah ini akan menampilkan daftar IP Address yang telah dipinjamkan kepada client. Pastikan informasi yang ditampilkan sesuai dengan IP Address yang diterima oleh masing-masing client.
Input:
dhcp-lease-list Output:
To get manufacturer names please download http://standards-oui.ieee.org/oui.txt to /usr/local/etc/oui.txt
Reading leases from /var/lib/dhcp/dhcpd.leases
MAC IP hostname valid until manufacturer
===============================================================================================
08:00:27:4f:19:5d 192.168.4.20 Client2-PC 2026-01-06 07:34:09 -NA-
08:00:27:f9:f4:b3 192.168.2.10 Client1-PC 2026-01-06 07:32:32 -NA-Dengan seluruh tahapan ini, rancangan DHCP Server multiple network pada Debian 10 dapat berjalan stabil, terstruktur, dan siap digunakan pada lingkungan jaringan nyata.
Troubleshooting & Cara Mengatasinya
Permasalahan ini biasanya muncul setelah melakukan konfigurasi dan menjalankan perintah restart service, namun sistem menampilkan pesan error atau service berada dalam status failed. Penyebab paling umum adalah kesalahan penulisan konfigurasi pada file dhcpd.conf, seperti kurung kurawal yang tidak seimbang, salah penulisan subnet, atau konflik antar rule.
Pemecahannya adalah dengan memeriksa status service menggunakan systemctl status isc-dhcp-server dan membaca pesan error yang ditampilkan. Setelah itu, lakukan pengecekan konfigurasi menggunakan perintah dhcpd -t untuk melakukan validasi. Jika ditemukan kesalahan, perbaiki konfigurasi lalu lakukan restart ulang service.
Kondisi ini terjadi ketika client terhubung ke jaringan, namun tidak mendapatkan IP Address secara otomatis. Biasanya client akan menggunakan alamat APIPA atau tetap berada pada status “requesting address”.
Penyebabnya bisa karena interface DHCP Server belum didefinisikan dengan benar pada file /etc/default/isc-dhcp-server, atau service DHCP tidak berjalan pada interface yang sesuai.
Solusinya adalah memastikan interface yang digunakan, seperti enp0s8 dan enp0s9, sudah dituliskan dengan benar pada rule INTERFACESv4. Pastikan juga interface tersebut dalam kondisi up dan memiliki IP Address statis.
Masalah ini biasanya terjadi karena terdapat DHCP Server lain dalam jaringan yang sama, misalnya dari router, access point, atau perangkat virtualisasi. Akibatnya, client justru menerima IP Address dari DHCP Server lain tersebut.
Untuk mengatasinya, pastikan hanya satu DHCP Server yang aktif pada setiap segmen jaringan. Nonaktifkan DHCP Server lain atau pastikan client benar-benar terhubung ke jaringan yang dilayani oleh DHCP Server Debian 10. Pengujian dapat dilakukan dengan memeriksa gateway dan DNS yang diterima oleh client.
Pada skenario multiple network, terkadang DHCP Server hanya berhasil melayani satu subnet, sementara subnet lainnya tidak mendapatkan IP Address. Penyebabnya bisa karena salah penulisan subnet atau netmask pada file dhcpd.conf, atau interface yang belum didefinisikan pada INTERFACESv4.
Pemecahannya adalah dengan mencocokkan konfigurasi subnet di dhcpd.conf dengan IP Address yang terpasang pada masing-masing interface server. Pastikan setiap subnet memiliki blok konfigurasi sendiri dan tidak terjadi overlap antar network.
Konflik IP biasanya terjadi jika terdapat perangkat client yang menggunakan IP Address statis dalam rentang DHCP, atau terdapat lease lama yang belum kadaluarsa. Gejalanya berupa client yang terhubung namun tidak bisa berkomunikasi dengan baik di jaringan.
Solusinya adalah memastikan bahwa IP Address statis pada jaringan berada di luar range DHCP. Selain itu, Anda dapat menghapus lease lama dengan membersihkan file lease DHCP atau melakukan restart service DHCP Server agar lease diperbarui.
Pada saat pengujian dari sisi server, terkadang perintah dhcp-lease-list tidak menampilkan informasi apa pun. Hal ini bisa terjadi karena belum ada client yang berhasil mendapatkan IP Address, atau paket pendukung belum terpasang.
Pemecahannya adalah memastikan bahwa client benar-benar sudah menerima IP Address dari server. Jika perlu, periksa file lease secara langsung pada /var/lib/dhcp/dhcpd.leases untuk melihat aktivitas peminjaman IP Address.
DHCP menggunakan protokol UDP pada port 67 dan 68. Jika firewall pada server aktif dan tidak dikonfigurasi dengan benar, maka request dari client tidak akan sampai ke DHCP Server.
Solusinya adalah memastikan aturan firewall mengizinkan lalu lintas UDP pada port tersebut. Untuk pengujian awal, firewall dapat dinonaktifkan sementara, lalu diaktifkan kembali dengan aturan yang sudah disesuaikan.
Dengan memahami skenario troubleshooting di atas, proses praktikum tidak hanya berhenti pada tahap “berhasil atau gagal”, tetapi juga melatih kemampuan analisis dan penyelesaian masalah jaringan secara sistematis.
Penutup
Dengan selesainya seluruh tahapan pada panduan ini, dapat disimpulkan bahwa perancangan DHCP Server multiple network menggunakan Debian 10 bukanlah sesuatu yang rumit selama dilakukan secara terstruktur dan berdasarkan analisis topologi yang jelas. Kunci utamanya terletak pada pemahaman subnet, pemetaan interface jaringan, serta ketelitian saat menuliskan rule konfigurasi pada file dhcpd.conf.
Melalui penerapan paket isc-dhcp-server, satu mesin server mampu melayani lebih dari satu segmen jaringan secara bersamaan. Pendekatan ini tidak hanya efisien dari sisi perangkat, tetapi juga memudahkan administrasi jaringan, terutama ketika jumlah client terus bertambah dan kebutuhan pengelolaan IP Address semakin kompleks.
Panduan ini dirancang agar tetap dekat dengan kondisi di lapangan, tanpa terlalu bergantung pada konfigurasi default semata. Penyesuaian range IP Address, pemilihan interface, hingga proses pengujian menjadi bagian penting untuk memastikan layanan DHCP Server berjalan stabil dan sesuai kebutuhan.
Sebagai langkah lanjutan, konfigurasi ini masih dapat dikembangkan lebih jauh, misalnya dengan penambahan reservasi IP berbasis MAC Address, pengaturan lease time yang lebih spesifik, integrasi dengan DNS Server, atau penerapan DHCP relay untuk jaringan yang lebih luas. Dengan fondasi yang sudah dibangun pada panduan ini, pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan lebih percaya diri dan terarah.

![Merancang Bangun DHCP Server [Multi Network] Pada Debian 13 Merancang Bangun DHCP Server [Multi Network] Pada Debian 13](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJxJhjtq4yYy-xteH_Z8JObo5M95HPKfDdmnzfTRlUbh3n9GZ3qeA6jsQzArnS7XZARFUrgSuoNYo24qCcGF7B5pqumUST0LNuyYF0og9ZnjYLGHavgPnKaqQCYGSTE0fA8Rj4JozoC2VJNAm1mmmKPdr1ymiMO-v38Shyphenhyphen3oZAx-F49LkO43og0QjICWBE/s16000-rw/Merancang%20Bangun%20DHCP%20Server%20%5BMulti%20Network%5D%20Pada%20Debian%2013.png)








Posting Komentar